Simbol dan Kekuatan Sang Naga

 

Simbol dan Kekuatan Sang Naga

KALIMAT bijak dari Nabi Muhammad, “Tuntutlah ilmu walau sampai negeri China” sangatlah tepat. Negeri ini merupakan sumbernya berbagai ilmu, obat-obatan, penemuan kertas, pertanian, arsitektur, fengsui dan sebagainya. Bahkan, ada strategi untuk meretas kesuksesan. Nah, untuk urusan ini, bangsa China senantiasa mempelajari karakter naga.

Naga, bagi bangsa China merupakan simbol produktivitas dan pembaruan sehingga memiliki pengaruh baik dan positif terhadap seluruh makhluk hidup di dunia. Juga, lambang kebesaran dalam budaya Tionghoa. Sang naga dikatakan sukses jika ia berhasil menyeimbangkan antara kerja keras (hard work), kerja cerdas (smart work), ditambah bekerja dengan hati yang ikhlas (heart work).

Banyak orang mengira jika mereka bekerja lebih keras, giat, pasti lebih sukses. Namun, kenyatannya tidak selalu demikian. Kita memiliki sumber daya yang terbatas, khususnya waktu dan tenaga. Oleh sebab itu, selain harus bekerja keras dan giat, juga harus menggunakan cara cerdik dengan otak, menerapkan strategi, taktik, serta teknologi dalam setiap tindakan agar mencapai hasil maksimal.

Delapan karakter yang digali dari naga adalah kerja keras, penuh motivasi, kepercayaan dan kejujuran, kekeluargaan, persaudaraan dan kebersamaan dalam kelompok. Karakter kelima yaitu naga selalu berpikir positif. Selanjutnya, memiliki cinta kasih, cepat bertindak atau menangkap peluang dan terus-menerus belajar.

Naga dianggap sebagai sumber kebijaksanaan dan kekuatan karena naga merupakan jiwa perubahan, ia dianggap sebagai sebuah bentuk kehidupan yang selalu berubah. Konsep perubahan sang naga disebut konsep wu chang.

Konsep ini mengatakan semua akan berubah. Seekor ulat akan menjadi kepompong dan beberapa hari kemudian menjadi kupu-kupu yang indah. Sama halnya dengan manusia, kita lahir, kemudian tumbuh menjadi remaja, kemudian dewasa, menjadi tua, sakit-sakitan dan kemudian meninggal. Konsep perubahan menurut sang naga adalah peningkatan terus-menerus, dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari dan seterusnya.

Oleh sebab itu, pepatah yang sering terdengar dari sang naga adalah “hari besok harus lebih baik dari hari ini” (mei thien fei ken hao).

Etnis Tionghoa meyakini bahwa karakter naga sangat mewakili karakter mereka. Malah ada sebagian orang Tionghoa percaya bahwa mereka adalah keturunan naga. Menurut dongeng dan kepercayaan, orang Tionghoa selalu menyebut diri sebagai generasi naga. Sebutan itu konon berasal dari dongeng dan totem zaman dahulu kala.

Sebelum Huang Di berhasil menyatukan bagian tengah Tiongkok, totemnya adalah beruang. Setelah mengalahkan chiyou dan menyatukan Tiongkok, Huang Di memutuskan untuk melepaskan totem lama dan mulai menyembah totem baru, yaitu totem “naga”, yang terdiri dari bagian kepala totem beruang dan badan ular.

Padahal totem naga merupakan kombinasi totem yang diwariskan dari garis patrilineal dan garis matrilineal. Kemunculan gambar naga itu sendiri mencerminkan sejarah perkembangan bangsa Tionghoa dan proses bergabung rakyat di antara berbagai etnis.

Figur naga yang melambangkan bangsa Tionghoa itu mulai diterapkan dalam aneka ragam corak, dan berangsur-angsur membentuk huruf kanji. Huruf “naga” juga terdapat pada tulisan di batok kura-kura atau tulang binatang yang ditemukan di petilasan Yin. Corak bergambar naga juga terlihat di pecahan tembikar zaman dahulu.

Selain itu, mereka juga percaya naga adalah sumber kekuatan magis yang mampu mengontrol angin, hujan, dan gerak alam raya sehingga benar-benar memengaruhi gerak kehidupan manusia di muka bumi. Mereka juga yakin naga adalah penghubung manusia dengan para dewa di surga dan neraka.

Demikian besar kekuasaan naga itu sehingga kaisar pertama yang menyatukan seluruh daratan China, yaitu Chin Sin Huang Ti atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kaisar Kuning oleh rakyatnya diberi gelar sebagai Sang Putra Naga. Ia dianggap memiliki kekuatan abstrak yang mampu menaklukkan empat negara dan berada dalam satu kekuasaannya, singgasana yang terbuat dari batu giok diberi profil seekor naga yang sedang mengejar bola mustika. n DWI/M-1

Judul: Awakening The Dragon Within: Membangkitkan 8 Karakter Naga

Penulis: Johanes Arifin Wijaya

Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia

Cetakan: Pertama, tahun 2008

Jumlah halaman: 169 halaman

Sumber buku: Toko Buku Gramedia

Dari website http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008032803195637

One response to “Simbol dan Kekuatan Sang Naga

  1. Pingback: Mau Sukses, Belajarlah Sampai Ke Negeri Tiongkok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s